Puisi Untuk Guru

2 07 2009

belajarPuisi ini ditulis seorang siswa autis dengan jelas menuturkan kebutuhan manusia untuk dapat diterima dan dihormati…

“Tempat Untuk Manusia”
Bila ini bukan tempat bagi airmata untuk dimengerti
Lantas, dimana lagi aku menangis?
Bila ini bukan tempat bagi saya untuk mendapat sayap
Lantas, kemana lagi aku terbang?
Bila ini bukan tempat aku mencari jawaban atas pertanyaan
Lantas, kemana lagi aku harus mencarinya?
Bila ini bukan tempat bagi perasaan saya untuk didengar
Lantas, kemana lagi aku berbicara?
Bila ini bukan tempat kau menerimaku apa adanya
Lantas, kemana lagi aku harus menjadi diriku?
Bila ini bukan tempat bagiku untuk mencoba belajar dan dewasa
Lantas, bisakah aku hanya menjadi diriku sendiri?
Bila ini bukan tempat bagi airmata untuk dimengerti
Lantas, dimana lagi aku menangis?

“ Guru adalah mediator yang bisa atau tidak, memberi pengalaman mendasar yang memungkinkan siswa menunjukkan potensi luar biasa yang dimilikinya” (Asa Hillard III)

MASALAH DISIPLIN

Saya ini guru. Saya yang memutuskan. Kalian kerjakan apa yang Saya katakan, karena saya mengatakan begitu. “
Pernahkah anda mendengar diri anda sendiri mengatakan begitu? Pernahkah anda bertanya pada diri anda sendiri, “ Dapatkah saya mengajar bila saya menghabiskan waktu untuk mendisiplinkan siswa saya? “

Para pendidik tahu bahwa sekarang ini, beberapa permasalahan siswa yang muncul dikelas tidak dapat diselesaikan di kelas. Permasalahannya terlalu besar dan rumit. Penyebabnya berada di luar kontrol setiap guru kelas. Kita tidak dapat memberikan pemecahannya namun kita dapat memberikan dukungan dan empati. Para guru dapat memberikan respek pada siswa yang sering tidak menghormati dirinya sendiri atau orang lain. Para guru hanya dapat menggantungkan harapan setinggi-tingginya terhadap prilaku dan pengetahuan siswanya.

Siswa seringkali membutuhkan orang yang dipercayai dan bersedia mendengarkannya. Guru adalah orang yang dimaksud. Setiap kelas sebaiknya merupakan surga yang aman, tempat para siswa dihargai kemampuan unik yang dimilikinya dan tempat siswa merasa terdorong mengambil resiko belajar.

Para pendidik dapat saja melepaskan rasa orang paling berkuasanya, semudah melepaskan peran sebagai orang yang paling tahu. Kita dapat mensyukuri rasa kemanusiaan kita, kekeliruan kita. Siswa mungkin akan lebih menghormati guru yang memaklumi siswa yang mungkin pernah berbuat salah namun mereka pandang hal tersebut sebagai “proses belajar”. Tidak seorangpun diantara kita yang senang dinasehati. Tatkala kita sedang menceritakan suatu kejadian, mungkinkah kita lebih banyak menyatakan bisa menerima apa yang seharusnya terjadi…? Kita lebih senang memiliki pilihan. Siswapun hendaknya memiliki pilihan atas apa yang mereka lakukan.

Pendidikan Berbasis Mutu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran. Guru tidaklah lantas turun dari singgasananya, malah bersama-sama bertanggungjawab dalam penyelenggaraan kegiatan kelas. Dengan pilihan dan tanggung jawab itu jelas melahirkan konsekuensi dan hendaknya itu disyukuri …


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: